Milis/Groups

Mari bergabung di milis Dinar Dirham Indonesia. Milis ini bertujuan untuk mendiskusikan masalah penggunaan dinar-dirham khususnya di Indonesia.

Milis: dinar_dirham_indonesia@yahoogroups.com
Join: dinar_dirham_indonesia-subscribe@yahoogroups.com

06 November 2009

Hari Pasar Terbuka Dinar Dirham Hadir di UNPAD Dipatiukur Bandung

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillahrrohmanirrohim
Puji dan Syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan jalan untuk terselenggaranya Pasar Terbuka Dinar Dirham khususnya di kota Kembang Bandung.

Setelah untuk pertama kalinya Pasar Terbuka Dinar Dirham kembali hadir di tengah-tengan Ummat, yaitu di Setral 5 Komplek Daarut Tauhiid Bandung pada bulan Mei 2009. dan dilanjutkan Pasar Terbuka di Lapangan Parkir Masjid SALMAN Bandung yang hadir 2 hari seminggu. Kali ini giliran Pasar Terbuka di Gedung Fakultas Ekonomi UNPAD Dipatiukur Bandung Tanggal 30 & 31 Oktober 2009.



Berawal dari ide kawan-kawan Islamic Studies of Economics Groups (ISEG) Kang Ayatullah, The Nina dan lainnya yang menjadikan Pasar Terbuka sebagai agenda kegiatan ISEG, Berkerjasama dengan Wakala-wakala di Bandung akhirnya Pasar Terbuka dapat terselenggara di UNPAD.



Pada Pasar Terbuka kali ini pengunjung bisa mendapatkan tas cantik, sepatu lukis, dompet cantik, pernak-pernik, tes obat herbal gratis, juga minuman dingin segar agar stamina kembali untuk hunting barang yang bisa ditukar menggunakan dinar dan dirham. Besarnya transaksi yang terjadi pada Pasar Terbuka kali ini adalah 9 dirham pada hari pertama, lalu pada hari ke-2 transaksinya sebanyak 9 dirham, 1 khamsa, 2 dirhamani dan 1 nisfu.



Dengan peran serta berbagai elemen masyarakat kita harapkan kembalinya Pasar Terbuka berbasis Wakaf dan kembalinya Dinar Dirham sebagai alat barter sukarela yang adil dapat terwujud di lingkungan kita. Amiin

Semoga Allah menjaga kelurusan niat dan amal kita.

28 October 2009

Dibuka!! Pendaftaran Pedagang Pasar Terbuka UNPAD Dipatiukur

Assalamu'alaikum Wr Wb
Bismillahirrahmanirrohim


Dengan ini kami mengumumkan pembukaan pendaftaran untuk pedagang yang akan berpartisipasi dalam Pasar Terbuka Islam sebagai rangkaian Acara dengan tema "Industri Kreatif Berbasis Syariah" pada :

Waktu : Jum'at dan Sabtu, 30-31 Oktober 2009
Pukul : 08:00-16:30
Tempat : Gedung Fakultas Ekonomi UNPAD Dipatiukur Bandung

Segera Hubungi CP HP.081322717521 Telp.022-2010576 untuk pendaftaran


Pasar Terbuka Islam
- Tidak Ada Pajak
- Tidak Ada Biaya Sewa
- Tidak Ada Pesan dan Klaim Tempat
- Transaksi tidak disarankan menggunakan fiat money
- Transaksi Menggunakan alat barter sukarela dengan nilai intrinsik
(Emas, Perak, Dinar, Dirham, Fulus)

Semoga Allah, subhanahu wa ta'ala menjaga kelurusan niat dan amal kita.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

30 July 2009

Pasar Jum'at Salman, Pasar Terbuka Berbasis Islam

Dipelopori oleh LPES Salman ITB dan Nidham Ukhuwah serta didukung oleh PT.IMN dan Wakala Induk Nusantara, Alhamdulillah Pasar Terbuka Kembali diselenggarakan di Lapangan Parkir Masjid Salman.

Kali ini Pasar Terbuka akan diselenggarakan Pada Minggu ke-4 Juli tepatnya tanggal 31 Juli 2009 dan Minggu ke-2 Agustus yaitu tanggal 14 Agustus 2009. Pasar yang akan dihadiri oleh lebih dari 50 Pedagang ini menjadi awal terbentuknya "Pasar Jum'at" yaitu Pasar Terbuka transaksi dengan Dinar & Dirham yang akan diselenggarakan secara rutin, Insya Allah.

12 June 2009

PASAR UKHUWAH PASAR TERBUKA BERBASIS ISLAM SALMAN ITB

Alhamdulillah wa syukrulillah
akan hadir kembali Pasar Terbuka untuk kedua kalinya di Bandung Setelah satu bulan penyelenggaraan Festival Pasaran Dinar Dirham Nusantara, tepatnya di Lapangan Parkir Masjid Salman ITB



PASAR UKHUWAH PASAR TERBUKA BERBASIS ISLAM
Waktu : Jum'at, Sabtu dan Ahad, 19-21 Juni 2009
Pukul : 08:00 s.d 17.00
Tempat : Lap. Parkir Masjid Salman ITB, Jl. Ganesha No.7 Bandung


Dengan ini kami membuka pendaftaran bagi para Wirausahawan/wati untuk bergabung bersama kami dalam memeriahkan acara tersebut. Pendaftaran Dimulai Hari ini dengan persyaratan untuk pedagang sebagai berikut :

1. Amanah, Jujur
2. Menerima Dinar Dirham Sebagai Pembelian Barang
3. Kami hanya menyediakan lahan, pedagang membawa peralatannya masing2
4. Pedagang Tidak dipungut Biaya Sewa (GRATIS)
5. Pendaftaran via Telp. ke :
Arin (022)70580600
Sufi (022)2530994
6. Batas akhir Pendaftaran Hari Senin Tanggal 15 Juni 2009

Hadiri juga Seminarnya di GSG Salman ITB

Hari ke-1 : Jum'at 19 Juni 2009, jam 13:00-15:00, GSG Salman ITB
1. Konsep Ekonomi Islam - Samsoe Basaroedin, BE (Staf ahli Pembina Masjid Salman ITB)
2. Sejarah Dinar Dirham, Pemberlakuan, Penghapusan dan Penghidupan Kembali - Zaim Zaidi (Wakala Induk Nusantara)

Hari ke-2 : Sabtu 20 Juni 2009, jam 09:00-11:30, GSG Salman ITB
1. Konsep Pasar Dalam Islam - Ahmad Iwan Adjie (Pelopor Dinar Dirham di Indonesia)
2. Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Masjid - Dr.Ir.Yan Orgianus, M.Sc (Ketua Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Masjid Indonesia)

Hari ke-3 : Minggu 21 Juni 2009, jam 09:00-11:30, GSG Salman ITB
1. Membongkar Syubhat-syubhat Ekonomi Sekuler - Thorik Gunara (Direktur Sekolah Dagang Islam/Praktisi)
2. Praktek Ekonomi Islam - Iman Abdullah (Staf ahli Lembaga Pengembangan Ekonomi & Manajemen Syari'ah Salman ITB)

Semoga Allah menjaga kelurusan niat dan amal kita.


Wakala Sauqi Dinar

22 May 2009

Lima Pilar Muamalat

Zaim Saidi - Direktur Wakala Induk Nusantara
Para ulama membedakan transaksi hidup (dien) menjadi dua, yaitu hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia. Yang pertama disebut ibadah, yang kedua muamalat.


Yang jadi soal di sini adalah timbulnya salah pengertian seolah keduanya tidak saling mengait, atau tepatnya, muamalat bukan bagian dari ibadah. Akibat lebih jauh lagi adalah dalam beribadah orang bersikap hati-hati, taat syariat, sementara dalam bermuamalat sangat longgar. Bukan saja syariat bermuamalat dilupakan, tapi kita "bermuamalat" dengan syariat dien lain, bukan dienul Islam.

Lihat sekeliling kita. Masyarakat Muslim umumnya sangat strick dalam urusan-urusan pribadi: salat, puasa, atau haji. Sedangkan dalam urusan-urusan sosial, yang justru merupakan kehidupan itu sendiri, tidak peduli: dalam jual-beli, utang-piutang, perdagangan, hubungan kerja, dan seterusnya. Syariat Islam tidak lagi diindahkan.

Maka, dienul Islam tinggal separuh (ibadah pribadi), separuhnya lagi (ibadah sosial, muamalat) mati. Dalam bermuamalat sehari-hari, umat Islam sama sekali tidak dapat dibedakan dari umat non-Islam, mengacu pada tata cara yang bahkan bertentangan dengan syariat Islam. Rasulullah SAW pernah menperingatkan kita: akan tiba suatu zaman ketika semua orang terlibat di dalam riba, bahkan yang tidak bermaksud memakannyapun, ikut terkena debunya. Zaman itu agaknya telah sampai di tengah kita. Kegiatan jual-beli, utang-piutang, serta perdagangan yang kita jalani sehari-hari, saat ini, tak ada yang tak terkait dengan riba.

Tetapi, Allah SWT, dengan tegas menyatakan agar kita meninggalkan sisa-sisa riba, seujung rambut sekalipun. Dengan kata lain tugas kita semualah untuk menegakkan muamalat. Dan itu sepatutnya kita lakukan dalam 'amal sehari-hari, bukan secara teori. Secara historis, 'amal muamalat di kalangan kaum Muslim, dapat kita kenali di dalam lima pilar muamalat.

1. Pasar


Pilar pertama yang kini hampir sepenuhnya runtuh adalah pasar, yakni tempat-tempat umum untuk masyarakat berdagang. Rasulullah SAW menyatakan bahwa pasar sama dengan masjid, tidak boleh dimiliki secara pribadi, tidak ada sewa, tanpa pajak, dan tidak ada bangunan permanen: terbuka penuh bagi siapa pun. Yang ada di sekeliling kita saat ini, bahkan yang disebut sebagai "Pasar Tradisional" sekalipun, bukanlah pasar menurut hukum syariat. Bangunan-bangunan permanen tersebut adalah kumpulan kios milik orang-perorang, yang untuk pemilikannya pun dikenai berbagai pajak pula.

Penyelenggaraaan Festival Hari Pasaran Dinar Dirham Nusantara, sebagaimana telah dimulai di Geger Kalong, Bandung, awal Mei 09 lalu, adalah awal dari upaya pengembalian pasar-pasar terbuka.

2. Dinar dan Dirham


Pilar kedua adalah alat tukar (uang) yang halal. Rasul SAW menyebutkan enam jenis alat tukar ini, yakni emas, perak, gandum, barley, kurma, dan garam (dalam riwayat lain disbut kismis). Ringkasnya alat tukar yang halal haruslah berupa komoditi yang umum dipakai sebagai alat jual-beli, yang paling lazim di antaranya adalah uang emas (dinar) dan uang perak (dirham). Tanpa alat tukar berbasis komoditi berbagai transaksi muamalat -khususnya utang-piutang dan jual-beli- tidak dapat berlaku adil, karenanya bersifat batil.

3. Pedagang Keliling
Pilar ketiga, sesudah pasar dan mata uang, tentu saja, adalah keberadaan para pedagang itu sendiri, baik secara sendiri-sendiri atau berombongan dalam rombongan keliling, dulu dikenal sebagai kafilah-kafilah (karavan). Para pedagang adalah penggerak utama ekonomi, baik dengan modal sendiri, maupun bermitra dengan para investor. Rasulullah SAW mengindikasikan bahwa "9/10 rezeki ada pada perdagangan". Lagi-lagi, yang kita lihat di sekeliling kita saat ini, bukanlah pedagang dan perdagangan. Mereka adalah "buruh-buruh lepas" pabrikan, yang diperlakukan sebagai outlet-outlet distribusi produk mereka.

4. Paguyuban Produsen


Pilar keempat, ketika pasar telah tersedia dan ramai dikunjungi para pedagang dan pembeli, maka produksi akan tumbuh kembali di tangan masyarakat, melalui syarikat-syarikat (paguyuban) produksi. Dalam syarikat-syarikat produksi (di Eropa dikenal sebagai gilda) inilah bekerja sebagian besar orang sebagai para pemilik atau mitra-pemilik (co-owner). Dalam muamalat posisi majikan-buruh adalah perkecualian belaka, berkebalikan dengan keadaan saat ini, ketika pemilikan adalah perkecualian, dan perburuhan adalah kelaziman.

5. Kontrak Bisnis Berkeadilan


Pilar kelima, sebagai konsekuensi dari kembalinya keempat pilar di atas, adalah kontrak-kontrak bisnis dan komersial menurut syariat: qirad, syirkat, muzara'ah, dan sebagainya. Qirad adalah kontrak kemitraan usaha dagang, antara pemodal dan agen yang ditunjukknya. Syirkat adalah kemitraan produksi sekunder. Muzara'ah adalah kemitraan produksi primer, seperti dalam pertanian dan perkebunan.

Sekarang kontrak-kontrak ini bukan saja telah hilang, tapi malah diambil-alih oleh sistem perbankan untuk membenarkan praktek haram mereka. Istilah-istilah dalam muamalat ini dimanipulasi dan dipakai untuk praktek-praktek yang bertentangan dengan hukum syariat. Perbankannya pun disebut sebagai perbankan syariat.

19 May 2009

Aneka Merchandise Dinar Dirham

Tata cara mempromosikan Dinar emas dan Dirham perak semakin beragam saja.

Penerbitan buku-buku (seperti buku Kembali ke Dinar oleh Zaim Saidi dan Kemilau Investasi Dinar Dirham oleh Sofyan Jawi) dan brosur adalah cara yang sudah konvensional dan banyak dilakukan. Tapi kini, makin banyak cara-cara yang lebih populer juga dilakukan untuk mempromosikan Dinar dan Dirham ini.

Dulu, pada awal-awal berkembangnya peredaran Dinar dan Dirham, pada awal tahun 2000an, misalnya, Wakala Adina sempat mencetak stiker dan kaos-kaos. Sama halnya, Wakala Sauqi di Bandung juga pernah mencetak kaos, dengan tema penyadaran akan kejahatan riba, dan solusinya dengan Dinar dan Dirham. Belakangan, cara mempromosikan Dinar dan Dirham semakin gencar, ketika Wakala Al Wakif mulai secara rutin memasang iklan, meskipun dalam ukuran kecil, di beberapa koran harian, seperti Republika dan Kompas.

Akhir-akhir ini promosi Dinar Dirham tampak bertambah meriah. Di medium Internet berbagai situs dan blog yang berisikan tentang Dinar dan Dirham bertambah banyak. Sekarang beragam merchandise seputar Dinar Dirham pun bermunculan, dengan corak ragam dan bentuk yang kreatif.

Lihatlah di salah satu 'kedai' peserta Festival Hari Pasaran Dinar Dirham Nusantara I, di Geger kalong, tempo hari (10 mei 2009) Di situ dijajakan aneka pernak-pernik bertema Dinar Dirham: cangkir, block note, kaos, stiker, dan gantungan kunci. Yang menarik adalah pernak-pernik ini bukan diprodukasi oleh Wakala, tapi oleh para pedagang umum. Selain memberikan penghasilan bagi produsen dan penjualnya, tentu saja, pernak-pernik tersebut akan berfungsi sebagai alat pendidikan dan sumber informasi tentang Dinar dan Dirham.


Terbukti, beragam pernak-pernik yang dijajakan oleh 'kedai' milik Mas Agung di Geger Kalong di atas laris manis dan habis terjual. Maklum harganya pun relatif terjangkau: kaos cantiknya (dengan logo JAWARA) adalah yang paling mahal, itu pun hanya dihargai 2.5 Dirham, block note-nya dijual seharga Dirham/buku, serta cangkir (mug) seharga 1 Dirham. Yang paling murah adalah gantungan kunci dijual seharga 1 Dirham selusin. (001)

14 May 2009

Kembalinya Pasar Terbuka di Bandung

Halaman parkir Pesantren Daarut Tauhid, Geger Kalong, Bandung, sepanjang hari Ahad, 10 Mei 2009, tampak lain dari biasanya.


Hari itu, halaman parkir yang dipenuhi oleh mobil pengunjung, cuma sekitar sepertiganya. Dua pertiganya justru dipenuhi oleh para pedagang dan pengunjung, yang tampak bertransaksi. Ada sekitar 35 orang pedagang menjajakan beragam komoditas: makanan dan minuman, mainan anak-anak, beras, pakaian, herbal, aneka produk oleh-oleh haji, cangkir, gantungan kunci dan aneka merchandise lainnya, buku-buku serta minyak wangi, dan sebagainya. Sepanjang hari Ahad itu Wakala se-Bandung pun membuka gerai penuh, untuk memudahkan pengunjung untuk menukaran rupiah ke koin Dinar atau Dirham, sebelum digunakan untuk berbelanja.


Lapangan parkir seluas sekitar 500 m persegi itu telah benar-benar tersulap menjadi sebuah pasar!
Tapi, pasar di hari Ahad itu bukan sembarang pasar. Di situ jual-beli dilakukan dengan mengikuti hukum syariat dan sunnah Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam: pasar terbuka bagi siapa saja, tak ada uang sewa, tak ada pajak, tak ada pemilikan pribadi. Dan, yang sangat penting, adalah alat tukar yang digunakan dalam transaksi di pasar ini adalah koin Dinar Emas dan Dirham Perak. Sepanjang beroperasinya pasar seorang Muhtasib, Bpk Devid Herdi, tampak mondar-mandir berkeliling, mengawasi jalanya pasar.


Tentu, dibandingkan dengan pasar pada umumnya, "pasar Dinar Dirham" ini sangatlah kecil. Tapi pasar ini hanyalah awal dari rangkaian pasar yang akan digelar melalui Festival Hari Pasaran Dinar Dirham Nusantara yang akan terus diselenggarakan di berbagai tempat di masa datang. Sambutan masyarakat atas pasar terbuka ini terbukti sangat besar, baik dari para pedagang maupun pembeli. Pengunjung pasar terdiri atas bapak-bapak, ibu-ibu, kaum remaja dan pemuda, serta anak-anak. Tampak bahwa kegiatan pasar ini sekaligus menjadi tempat yang sangat baik untuk pendidikan bagi semua tentang tata cara bermuamalat yang sesuai dengan syariat Islam.

Berapa besar transaksi terjadi hari itu? Alhamdulillah, sungguh luar biasa, untuk ukuran pasar yang baru pertama kalinya dilakukan: setidaknya 65 Dinar emas dan lebih dari 400 Dirham perak telah berpindah dari tangan ke tangan, melalui pertukaran dengan aneka komoditas. Ditambah lagi sejumlah transaksi yang terjadi dalam rupiah.


Para pedagang, tentu saja, mematok harga berbeda-beda untuk komoditi yang berbeda. Kaos-kaos oblong cantik, dengan logo JAWARA, misalnya dijual dengan harga 2,5 Dirham/potong. Yoghurt dijual dengan harga 7 gelas/Dirham. Sekarung beras, dengan isi 20 kg, dijual dengan harga 1 Khamsa (5 Dirham) plus Rp 20.000/karung. Dalam sejumlah kasus kombinasi pembayaran, atau pengembalian selisih harga, dalam Dirham dan rupiah serupa ini terjadi tanpa masalah apa pun.

Apa yang terjadi di pasar di Geger Kalong, tempat yang dipimpin oleh Aa' Gym, ini membuktikan bahwa masyarakat sangat merindukan dan menyambut dengan gembira kehadiran kembali Dinar emas dan Dirham perak. "Sesudah delapan tahun dinanti-nanti, akhirnya terwujud juga pasar Islam ini," kata Sufi Sophia, salah seorang pedagang, yang hari itu mendapat cukup banyak koin Dirham dari hasil dagangannya. Seorang remaja putri ABG sampai bolak-balik dua kali ke Geger Kalong, dari rumahnya yang cukup jauh di Cimahi, hanya untuk membobok tabungannya dan menukarkannya menjadi Dirham, sebelumnya membelanjakannya untuk mainan. Beberapa anak-anak dengan bergembira menenteng-nenteng koin Dirham perak pembelian orang tuanya, ada juga yang menukarkannya dengan kerupuk kesukaannya.


Pemakaian kedua koin Dinar Emas dan Dirham Perak, seperti yang berlangsung dalam Festival Hari Pasaran, di Geger Kalong, terbukti sama mudahnya dengan pemakaian koin uang berbahan baku aluminium atau nickel.