Yunani dinyatakan bangkrut, jatuh ke dalam pelukan IMF. Rakyatnya menolak.
Krisis utang Yunani, seperti yang sudah bisa diduga sebelumnya, akhirnya membuat negeri itu bakal sepenuhnya bangkrut. Tidak ada jalan lain, kecuali para pemimpinannya menyerah lebih jauh l agi kepada para rentenir, siapa lagi, kalau bukan IMF. Total kebutuhan talangan yang diberikan oleh IMF adalah 110 milyar Euro.
Dana Moneter Internasional (IMF), tentu saja, mengatakan siap untuk terus mendukung perjuangan Yunani mengatasi krisis utangnya, asalkan pemerintah mengadopsi langkah-langkah ekonomi yang telah disepakati. "Kami siap melanjutkan dukungan kami untuk persoalan Yunani untuk mengadopsi reformasi kebijakan ekonomi yang disetujui dengan otoritas Yunani," juru bicara IMF Caroline Atkinson mengatakan dalam sebuah pernyataan.
"Mengadopsi langkah ekonomi" ala IMF, berarti, mengurangi dana sosial untuk rakyat, peningkatan pajak, penurunan gaji pegawai (khususnya pegawai negeri), dan sejenisnya. Ekonomi, konon berasal dari negeri Yunani, telah runtuh di negeri asalnya.



Rakyat Yunani pun menolak langkah para politisi itu. Terjadilah protes besar-besaran. GSEE, serikat pekerja terbesar di Yunani, menyatakan mogok kerja selama 48 jam. Jutaan rakyat turun ke jalan, dimulai 15 Juni lalu.
Pemandangan serupa dengan yang terjadi di Lapangan Puerta del Sol, Spanyol, sebulan lalu pun terulang. Lautan manusia menyatakan protes kepada para politisi dan bankir. PM Yunani George Papandreou, Ahad kemarin, mengumumkan akan segera merombak kabinet. Sebuah langkah klasik yang akan selalu sia-sia untuk mengubah keadaan.
Peristiwa di Eropa, ini sepatutnya menyadarkan kita, bahwa sistem riba berbasis uang kertas tengah dalam proses keruntuhannya. Bersegeralah kembali ke muamalat, dengan Dinar dan Dirham.
"Akan datang masanya ketika tak ada lagi yang bisa dibelanjakan (karena kehabisan nilai) kecuali Dinar dan Dirham. Selamatkan Dinar dan Dirham." (Hadis Riwayat Ahmad).
0 komentar:
Post a Comment