Ditengah bobroknya sistem ekonomi dunia, yang membuat harta rakyat (bahkan negara) dirampok secara diam-diam oleh pihak-pihak tertentu, syiar kembali ke dinar emas dan dirham perak terus digalakkan. Ummat islam kembali dikenalkan bahwa mereka sebenarnya memiliki mata uang yang sangat adil dan stabil yaitu dinar dan dirham.
Selain sangat baik untuk digunakan sebagai alat transaksi muamalah (jual beli, sewa menyewa, hutang piutang, kerjasama qirad atau syirkah dan transaksi lain), dinar dirham juga merupakan dasar perhitungan dan pembayaran zakat mal yang sah.

Namun tidak semua orang peduli dan mau mengindahkannya. Bahkan ummat islam sendiri, belum banyak yang peduli, walaupun telah diberitahukan beberapa kali. Penulis yakin, hal ini seringkali ditemui oleh siapapun yang berusaha mensosialikan dinar dirham untuk transaksi muamalah kepada masyarakat. Apa penyebabnya ? Entahlah, secara teoretis cukup banyak kemungkinan penyebabnya.
Namun fenomena itu sebenarnya sangat sederhana untuk dijawab:Tak Kenal Maka Tak Sayang!
Tanyakanlah bagaimana indahnya bermuamalah menggunakan dinar dirham kepada orang-orang yang sudah mengenal dinar dirham. Bisa dipastikan mereka menjawab “sangat indah dan manis, makin hari makin sayang”
Bukan, ini bukan tentang mencintai grafik turun naik harga emas, bukan tentang investasi, spekulasi maupun berkebun emas. Jauh lebih manis lagi. Rasa sayang yang TIDAK MUNGKIN dirasakan oleh orang yang tidak kenal dengan dinar dirham.
Ini tentang manisnya bermuamalah menggunakan dinar dirham, tidak melulu tentang besarnya transaksi atau untung jual beli yang diperoleh. Lihatlah betapa bahagianya bu Citra menerima beberapa koin dirham perak untuk pembayaran busana muslim dagangannya. Lihat juga senyum bahagia pembeli yang merasa lega bisa bertransaksi tanpa riba.
Coba perhatikan senyum bahagia kang Ghulam, kang Ikhsan, kang Agung, mba Tantri, teh Ella, bu Arum, bu Vera dan puluhan pedagang lainnya yang barangkali hanya menerima 1 dirham atau daniq saja untuk membayar telur, beras, buku, abon sapi, tas, minyak goreng dan dagangan lainnya.
Pembaca tentu tidak dapat melihat bagaimana lebih bahagianya penulis menerima 2 koin daniq (senilai 22.000) daripada 25.000 untuk 1 buah buku Satanic Finance yang dipesan oleh saudara seiman dari Palembang.
Ini tidak melulu tentang laba. Berdagang mencari laba ? tentu !!, buat apa jualan kalau tidak untung. Tapi ada yang jauh lebih indah dari sekedar mendapat laba dari jual beli, yaitu betapa nikmatnya bertemu, berkumpul dan bertransaksi tanpa riba dengan saudara saudari lainnya disebuah pasar yang bebas pajak, bebas sewa, bebas pungli sebagai mana seharusnya transaksi dan pasar dalam muamalah islam.
Bertemu dan bermuamalah dengan saudara saudari seiman yang bersungguh-sungguh dan ingin dan memulai langkah hijrah dari sistem ribawi yang busuk menuju muamalah yang mulia.

Perasaan sayang dan bahagia yang TIDAK MUNGKIN dapat dirasakan oleh siapapun yang tidak mengenal dan mengamalkan dinar dirham untuk transaksi muamalahnya.
Ditengah perdebatan para pakar ekonomi, cendikiawan muslim hingga masyarakat awam apakah dinar dirham benar-benar bisa jadi obat untuk sakit parah sistem ekonomi dunia saat ini, disaat beberapa orang dengan khusyuk masyuk mempelototi grafik naik turunnya harga emas dan perak yang bisa membuat jantungan, ada sekumpulan kecil orang yang sudah mulai merasakan nikmatnya hidup bermuamalah tanpa riba.

Ya, Tak Kenal Maka Tak Sayang.
Tidakkah Anda ingin ikut merasakan manisnya bermuamalah tanpa riba ? Tunggu apa lagi ?
Coba kenali dinar dirham, kenali cara bermuamalah dalam islam, kenali riba dan bahayanya. Bisa dipastikan, begitu Anda kenal Anda akan langsung jatuh cinta dengan rasa sayang yang kian membesar setiap harinya.
Bandung, 4 Mei 2011
Devid Hardi
Pecinta dinar dirham untuk muamalah
0 komentar:
Post a Comment