Milis/Groups

Mari bergabung di milis Dinar Dirham Indonesia. Milis ini bertujuan untuk mendiskusikan masalah penggunaan dinar-dirham khususnya di Indonesia.

Milis: dinar_dirham_indonesia@yahoogroups.com
Join: dinar_dirham_indonesia-subscribe@yahoogroups.com

02 April 2007

Dinar/Dirham sebagai tabungan/investasi

Anda seorang pegawai/pekerja? Apabila Anda berniat menabung, dinar/dirham dapat menjadi salah satu alternatif tabungan selain menabung di Bank konvensional atau syariah. Mengapa menabung dalam dinar/dirham? Ada beberapa alasan yang pantas untuk dipertimbangkan.

Pertama, status tabungan di Bank konvensional sudah jelas: riba. Riba (salah satu bentuknya adalah bunga) dilarang oleh Allah SWT. Tidak perlu dijelaskan secara detil di sini. Bagaimana dengan bank syariah? Tentu statusnya bukan riba. Dan memang tidak ada salahnya menabung di Bank syariah. Hanya saja, apabila Anda memperhitungkan inflasi atau penurunan nilai mata uang, maka simpanan Anda di Bank akan terus mengalami penurunan nilai yang relatif signifikan, walaupun ada bagi hasil. Namun seperti yang kita ketahui secara umum, bagi hasil bank syariah nilainya tidak jauh2 dari bunga bank konvensional sehingga tetap tidak dapat menutupi efek inflasi.

Kedua, sebagai tabungan, dinar/dirham tahan terhadap inflasi. Nilainya akan relatif selalu tetap tidak terpengaruh terhadap badai inflasi. APabila Anda menyimpan 100 dinar sekarang, 10, 20 tahun lagi, nilai/daya beli nya akan relatif selalu tetap, namun apabila Anda menyimpan 100juta rupiah sekarang (apalagi kalau di bawah bantal), niscaya nilainya akan jauh berkurang 10, 20, 30 tahun lagi, apalagi bila terjadi hyperinflasi.

Barangkali ada pertanyaan berupa,bagaimana dari sisi keamanan/penyimpanan? Bukankah rawan menyimpan koin emas apa lagi dalam jumlah cukup banyak di rumah sendiri? Memang benar, relatif lebih riskan bila menyimpan di rumah walaupun itu adalah sebuah resiko pilihan. Sebenarnya ada beberapa alternatif penyimpanan yaitu: Bisa disimpan di rumah, dengan membeli semacam brankas kecil dan tentu saja sistem keamanan lingkungan cukup baik; Bisa juga disimpan di safe deposit box Bank apabila jumlah dinar/dirham cukup banyak atau dititipkan di Wakala-wakala terdekat. Relatif lebih aman pilihan yang kedua.

Bagaimana? Siap untuk menabung dinar/dirham?

6 komentar:

Anonymous said...

Nabung di bank apa pak? Apa sudah ada lembaga bank di Indonesia yang menerima tabungan dalam mata uang dinar emas? Kalau nabung di rumah atau di lemari besi sih sama aja dengan nimbun, karena gak berputar. Perekonomian bangsa sama sekali tidak diuntungkan. Kalau sudah ada bank di Indonesia yang seperti itu tolong di informasikan. Terima kasih.

Sauqi said...

@Anonymous
Saat ini belum ada 'BANK' yg menerima tabungan dinar/dirham dan sepertinya tidak akan ada. Kenapa? Karena karakteristiknya tidak cocok. Kalau pakai dinar/dirham, dari mana bank memberikan bunga? Tidak mungkin bisa karena dinar/dirham (emas/perak) jumlahnya terbatas di dunia dan tidak dapat dibungakan. Beda dengan uang kertas (riba) yg dapat dibuat sebanyak mungkin oleh Bank.

Menabung/nimbun di rumah/wakala/deposit box asalkan ada keperluannya tidak masalah, misalnya hendak naik haji, niat membeli rumah, tabungan pendidikan anak, mau menikah :) . Ini jauh lebih baik daripada nabung di Bank tapi terus-menerus digerus inflasi + potongan2 administrasi yang sangat besar + memakan riba (bunga).

Mengenai perekonomian bangsa, justru dengan uang kertas dan sistem riba ini perekonomian bangsa makin terpuruk. Lihat saja para Bankir yang lebih memilih menimbun uangnya di SBI daripada menyalurkan ke sektor riil. Berapa persen uang kita di Bank yg disalurkan? Sangat2 kecil.

Masalah uang diputar, sebelum ada Bank, yang terjadi adalah pemilik uang (modal) bersinergi dengan pemilik tenaga/jasa dan membuat konsep bagi hasil. Tidak perlu melalui perantaraan bank.

Anonymous said...

Kalau menabung dalam bentuk dinar dan dirham, misalnya kita ada keperluan yang mendesak bagaimana untuk menukarkannya? karena tidak semua orang mau menerima dinar dan dirham yang kita miliki.sampai saat ini, wakala wakala yang ada hanya ada di jawa. sedangkan dikalimantan belum ada.

aleem said...

saya kok lebih menangkap hal ini sebagai semacam penipuan terselubung yang nampak seolah-olah dibungkus dengan nilai-nilai agama. Apapun adanya dan seburuk apapun mata uang Rupiah, kita akan tetap menggunakannya. Karena kita hidup di Indonesia, dan dijaman sekarang, bukan diarab dijaman Rasul-Rasul. Kita lihat realitanya sajalah, mana ada orang mau beli mobil dibayar pake dirham/dinar? Trus patokannya apa? Anda menentukan nilai kurs atas dasar apa?. Ada yang gampang kok senengnya yang repot-repot. Ingat mas Allah SWT itu menyukai kemudahan.

melati said...

saya senang sekali mengetahui tentang adanya dinar dan dirham, sebelumnya saya melihat pengalaman dari nenek saya yang senang menabung dalam bentuk emas batangan, ternyata tabungannya dapat mengikuti perkembangan jaman. karena pada masa kini disaat harga-harga melambung naik, maka bila ada keperluan yang membutuhkan biaya yang besar, nenek saya bisa menjual emas batangannya dengan mendapatkan jumlah uang sesuai dengan yang dibutuhkan, karena nilai emas juga selalu naik. jadi dinar dan dirham bisa dijadikan alternatif untuk menabung tanpa takut digerogoti inflasi, biaya administrasi dll. kalau sdr aleem, misalnya ingin beli mobil, maka dengan menabung menggunakan dinar/dirham, ketika saat membeli mobil, nilai dinar/dirham anda akan mengikuti laju inflasi harga mobil pada saat itu.karena seperti kalau sdr aleem membeli emas ditoko emas, maka harganya selalu naik dari waktu ke waktu mengikuti laju inflasi pada jamannya.

Anonymous said...

@ mas aleem: klo pendapat mas kayak gtu, berarti sama aj mas ngomong gini: "syariat islam itu lebih kayak semacam penipuan yg dibungkus dg nilai2 agama. Apapun adanya dan seburuk apapun pancasila dan UUD 1945 buatan manusia, kita akan tetap menggunakannya. Karena kita hidup di Indonesia, dan dijaman sekarang, bukan diarab dijaman Rasul-Rasul. ada yg gampang (Pancasila n UUD 45) kok Senengnya yang repot-repot. Ingat mas Allah SWT itu menyukai kemudahan."

intinya perkataan mas aleem seolah2 menyiratkan bahwa syariat Islam itu out of date dan tidak bisa diterapkan pd jmn modern skrg. Padahal itu adl pemikiran Barat yg sungguh sangat keliru.
Subhanallah..semoga Allah memberikan hidayah pada mas Aleem..